Gunung Bromo: Tanah Kami Subur Tuhan !

Gunung Bromo, yah siapa yang tidak tahu salah satu wisata yang mencuri perhatian para wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Mereka rela menguras isi dompetnya hingga jarak sudah tidak di pedulikan hanya untuk bisa menginjakkan kakinya di Gunung Bromo yang masih berstatus gunung aktif. Meskipun demikian wisata di malang ini selalu ramai setiap harinya.

Dimana Letak Gunung Bromo?

Gunung Bromo terletak di empat wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang. Selain berada dalam empat wilayah Kabupaten Gunung Bromo juga memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut, dan Gunung Bromo menjadi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Bromo menjadi wisata di malang yang memiliki kawah dengan garis tengah kurang lebih 800 meter (utara-selatan) dan kurang lebih 600 meter ( timur-barat).

Sejarah Letusan Gunung Bromo Hingga Asal Usul Upacara Kasodo

Sebagai gunung yang berstatus aktif, Gunung Bromo juga memiliki sejarah yang sangat melekat bagi penduduknya. Dimana gunung ini pernah mengalami letusan dalam interval waktu yang teratur selama 20 abad, yaitu 30 tahun sekali, hingga letusan terbesar pada tahun 1974 dan kembali meletus pada tahun 2010.

Akibat letusan ini kerugian mencapai jutaan rupiah, kehilangan rumah, harta bahkan sanak saudara, tidak bisa di bayangkan betapa tragisnya letusan Gunung Bromo dan rasa takut yang di rasakan para penduduk sekitarnya.

Tetapi hal ini tidak lantas membuat mereka larut dalam kesedihan, mereka bangkit dan memulai kehidupan barunya. Berbagai cerita telah terjadi di Gunung Bromo ini, meskipun begitu wisata ini menyimpan sejuta keindahan alamnya dan budayanya. Sebut saja Upacara Kasodo atau Yadna Kasada.

Asal usul Upacara Kasodo mulai sejak abad ke-15 diceritakan pada saat itu hiduplah seorang putri cantik jelita bernama Roro Anteng yang memimpin kerajaan Tengger bersama suaminya bernama Joko Seger. Pasangan ini tidak memiliki anak dan mereka memohon kepada sang dewa. Akhirnya mereka memiliki 25 anak dan mewajibkan untuk mengorbankan anak ke 25 mereka untuk di lempar ke gunung berapi. Inilah salah satu wisata di malang yang patut kita banggakan, betapa besar ciptaan Tuhan.